Tas Belanja Lipat Model Baggu Lokal bahan parasut

Kategori: Perlengkapan-Rumah-Tangga | 184 Kali Dilihat
Harga:Rp 8.000
Order via SMS

6282132001719

Format SMS : ORDER#NAMA PRODUK#JUMLAH
Pemesanan Juga dapat melalui :
SKU : baggu lokal
Stok Tersedia
0.1 Kg

Detail Produk Tas Belanja Lipat Model Baggu Lokal bahan parasut

Tas Belanja Lipat Model Baggu Lokal bahan parasut, Kualitas lebih bagus lebih tebal dan jahitan kuat

Untuk membantu program kebersihan lingkungan yang digalakkan Pemerintah dalam hal mengurangi penggunaan kantong plastik.

Selama ini sampah plastik dari kantung belanja banyak di temui di sungai, sampah bahkan di kawasan hutan lindung

tak luput dari sisa-sisa sampah kantong plastik yang di buang.

Tas Belanja Lipat Model Baggu Lokal bahan parasut

Jika anda biasa memakai kantong plastik buat belanja, mulai bulan depan baiknya anda bawa sendiri kantong belanja. Sebab mulai bulan Februari, kantong plastik ini tak lagi gratis. Supermarket dan retail sejenisnya akan mengenakan biaya tambahan untuk membeli kantong plastik belanja.

Tas belanja lipat dengan bahan parasut ini bisa di cuci

dan ucapkan selamat tinggal kantong plastik saat kita belanja di swalayan. Kini ada tas belanja lipat model baggu produk lokal dari bahan parasut.

Berikut ini adalah kutipan artikel kebijakan dari “Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan”

Pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari nanti, pemerintah akan memberlakukan kebijakan kantong plastik berbayar. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

akan memperkenalkan kebijakan kantong plastik berbayar di 17 kota kepada pemerintah daerah, dunia usaha atau peretail modern, dan masyarakat.

Kota-kota yang akan menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar tersebut adalah :

DKI Jakarta, Bandung, Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, Solo, Semarang, Surabaya, Denpasar, Palembang, Medan, Balikpapan, Banjarmasin, Makassar, Ambon, dan Jayapura.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian LHK Tuti Hendrawati Mintarsih mengatakan, penerapan plastik berbayar awalnya akan ditujukan kepada retail modern secara bertahap.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mendukung upaya pemerintah mengurangi limbah plastik melalui kebijakan kantong plastik berbayar atau kantong plastik tidak gratis di Indonesia‎

Melalui kebijakan ini, pihaknya berharap, masyarakat bisa lebih bijak dalam menggunakan kantong plastik.

“Ketika hendak berbelanja, konsumen disarankan membawa tas belanja sendiri atau akan diminta membeli kantong plastik maupun tas belanja yang dapat dipakai berulang (reuseable) di toko-toko anggota kami,” ujar Roy Mandey, Ketua Umum Aprindo dalam siaran pers yang diterima Bisnis.com

Peritel juga akan membantu pemerintah mensosialisasikan terlebih dahulu dan mengedukasi masyarakat melalui berbagai media serta melakukan pemasangan poster di toko

agar konsumen mengerti dampak negatif limbah plastik bagi lingkungan. Apabila kebijakan ini berhasil diterapkan, beban peritel dari pembelian kantong plastik dapat dialokasikan untuk dana CSR peritel modern bagi lingkungan.

Karena itu, pemerintah diharapkan memberikan keleluasaan kepada pengusaha ritel dalam menentukan harga jual kantong plastik dan mengatur mekanismenya.‎ Selama masa sosialisasi & edukasi kepada masyarakat harga jual kantong plastik berbayar yang ingin Aprindo terapkan adalah sebesar Rp 200,- (dua ratus rupiah) termasuk PPN, ini merupakan harga yang disubsidi oleh peritel agar tidak memberatkan konsumen. Menurut Roy Mandey, implementasi kebijakan kantong plastik berbayar di daerah tidak memerlukan Peraturan Daerah (perda).

“Kami pikir tidak perlu ada perda untuk mengatur kantong plastik ini, karena status barang tersebut akan diberlakukan seperti barang dagangan lainnya yang menjadi otoritas dan mekanisme peritel selama ini,” jelas Roy.

Aprindo khawatir tren belanja konsumen ke ritel modern menurun akibat kebijakan ini, pemerintah juga harus melindungi semua sektor industri agar bisa tumbuh, termasuk diantaranya sektor ritel yang berada di hilir dan merupakan industri padat karya.

Roy menegaskan bahwa peritel sepakat tidak ingin menggunakan kelebihan hasil penjualan kantong plastik sebagai donasi untuk berbagai aktivitas sosial. “Dana CSR sumbernya tetap dari budget perusahaan, dengan menekan biaya perusahaan tentunya budget perusahaan untuk CSR dapat meningkat,” tegasnya.

Data Nielsen 2015 menyebutkan, market share dari industri ritel-toko swalayan (minimarket, supermarket, hipermarket, dan perkulakan) di Indonesia hanya sebesar 26,0 persen sedangkan ritel pasar rakyat mencapai 74,0 persen.

Artinya, kebijakan ini hanya akan berhasil jika semua peritel baik toko swalayan maupun pasar rakyat menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar secara simultan.

“Pemerintah sudah berinisiatif membuatkan aturan, pengusaha memberikan dukungan dan menjalankannya dengan harapan respons masyarakat juga positif. Kami ritel modern siap menjadi pilot project kebijakan ini,” tandas Roy

Jika order dengan pilihan warna tertentu kosong, maka dikirim sesuai stok yang ada.

There are no comments yet, add one below.

Berikan Komentar/Review Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Form yang wajib di isi ditandai *

Dapatkan Diskon
Daftar newsletter